Tiongkok telah muncul sebagai kekuatan global yang dominan dalam pengembangan Kecerdasan Buatan (AI), dengan investasi besar-besaran dalam riset, pengembangan, dan penerapan teknologi ini. Ambisi Tiongkok untuk menjadi pemimpin dunia dalam AI pada tahun 2030 tidak hanya memengaruhi lanskap teknologi global tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap riset dan industri di seluruh Asia. Dengan banyaknya talenta, dukungan pemerintah, dan ketersediaan data yang melimpah, Tiongkok telah menghasilkan inovasi AI yang masif, mulai dari pengenalan wajah, kendaraan otonom, hingga aplikasi medis berbasis AI.
Dampak kepemimpinan Tiongkok ini terasa di seluruh ekosistem AI di Asia. Di satu sisi, ada peluang kolaborasi dan transfer teknologi. Banyak negara Asia melihat Tiongkok sebagai mitra potensial untuk mengembangkan kemampuan AI mereka sendiri, baik melalui investasi bersama, program pelatihan, atau adopsi platform AI Tiongkok. Ini dapat mempercepat inovasi dan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut, khususnya dalam sektor-sektor seperti manufaktur cerdas, kota pintar, dan layanan digital.
Di sisi lain, ada pula kekhawatiran tentang dominasi Tiongkok. Negara-negara lain mungkin merasa tertekan untuk bersaing dengan kecepatan inovasi Tiongkok, yang dapat menciptakan ketidakseimbangan dalam kemampuan teknologi. Ada juga isu-isu terkait etika AI, privasi data, dan potensi penggunaan teknologi AI untuk pengawasan, yang memicu perdebatan tentang bagaimana teknologi ini harus dikembangkan dan diatur di seluruh Asia.
Menghadapi kepemimpinan Tiongkok, negara-negara Asia lainnya perlu merumuskan strategi AI mereka sendiri. Ini mungkin melibatkan investasi pada talenta lokal, fokus pada niche tertentu di mana mereka memiliki keunggulan kompetitif, atau membangun aliansi dengan kekuatan AI global lainnya. Dengan demikian, Asia dapat memastikan bahwa pertumbuhan AI di kawasan ini didasarkan pada prinsip-prinsip yang kuat, yang mendukung inovasi sekaligus melindungi nilai-nilai kemanusiaan.

